Kalkulator Rupiah di Kepala

Istilah ini pertama kali saya dengarkan dari orang Indonesia yang sekolah di Belanda. Saat itu di Leiden, di rumah Pak Min, dengan semangat ia ceritakan bagaimana ia didenda di bandara sebesar 50 euro. Ia bilang itu besar sekali.
"Baru datang dari Indonesia. Jadi, kalkulator rupiah masih di kepala," katanya.

Saya ketawa-ketawa saja mendengar ceritanya. Memang terasa sekali jika ke Eropa, rupiah tak ada artinya. Sekali makan, butuh 5-10 euro, naik trem 2 euro, naik kereta dari Amsterdam ke Utrecht 10 euro. 1 euro sama dengan 15 ribu rupiah. Hitung saja sendiri.

Bagi orang Belanda, ini wajar karena upah minimum mereka sekitar 9.17 euro (upah pokok + tunjangan liburan). Informasi ini saya baca dari buku terbitan IMWU Belanda. Makanya, mereka bisa berlibur ke Bali paling tidak sekali setahun.

Buruh-buruh migran yang tergabung dalam IMWU juga "menakut-nakuti" saya agar saya semakin berhemat kali ya, terkait dengan rencana saya yang akan tinggal selama beberapa hari di rumah orang Belanda. Kata mereka, ditampung untuk tinggal, bukan berarti ditanggung makan.
"Mereka bisa makan bersama keluarganya tanpa mengajak kamu," kata mereka.

Setengah tidak percaya. Tapi, uang saya tinggal 50 euro di kantong, membuat gentar juga akan kabar itu.

Lalu, mereka sarankan untuk mencari makanan murah yang namanya Kap Salon, makanan orang Turki semacam kebab. Harganya murah, hanya 1.5 euro. Syukurlah, di kemudian hari, perkiraan mereka soal "tidak ditanggung makan" tidak terjadi. Ha ha ha

Saya sendiri sampai sekarang tidak pernah mencoba Kap Salon, tapi sering lihat di sepanjang jalan.

Kawan saya, Surya, seorang aktivis buruh, menyarankan agar jangan memikiran uang euro ditukar ke rupiah.
"Bisa stres sendiri," katanya.
Share on Google Plus

1 komentar:

  1. Danial Indrakusuma22 April 2015 21.55

    Kalau aku, saat di Australia, kalau mau belanja buat isteriku--apalagi kalau belanja makanan; apalagi kalau dia sedang sakit orang dunia ketiga datang ke negeri kapitalis maju--tak pernah hitung-hitung (tak ada kalkulaor rupiah di kepalaku). Tujuanku cuma satu: agar dia cengangas-cengenges seneng, dan ngasih pujian gombal--pujian gombalnya sangat berharga buatku, kayak enerji semangat hidup. Aduh... Manisnya, gua.

    BalasHapus