Susahnya Jadi Karyawan Tetap

Keinginan minum es buah sudah tak tertahankan. Akhirnya, saya mendatangi penjual es buah langganan sehabis membayar tagihan listrik yang jumlah terus naik. Saya mendapati dua orang penjual es buah, bapak dan ibu, sedang ngobrol dengan salah seorang pembelinya, perempuan.

Duduk perkaranya langsung jelas. Ada seorang pekerja perempuan yang kebetulan teman si pembeli kerja di perusahaan Mattel, produsen boneka barbie, yang baru saja mengundurkan diri. Menurut cerita si pembeli, temannya capek kerja, sudah lebih dari 10 tahun.
"Sayang banget mengundurkan diri. Kalau diPHK, bisa dapat 100 juta lebih. Kalau kite sendiri yang keluar, hanya 10-20 juta aja," kata si Ibu.

Hal ini dibenarkan oleh bapak penjual es buah. Ia bahkan menceritakan kasus-kasus PHK yang bisa mendapatkan pesangon hingga ratusan juta.
"Tapi, sayang, neng, kalau sudah karyawan. Anak saya saja susah banget jadi karyawan. Ini kontrak setahun, sudah habis. Katanya nanti dipanggil lagi. Ngga' tau, dah," kata si bapak.

Ia terus saja menyayangkan dan mengeluhkan soal susahnya jadi karyawan tetap, sampai urusan si pembeli selesai dengan mengambil bungkusan es buah dan membayar harganya.

Ini potret sehari-hari yang menimpa buruh-buruh muda yang baru saja memasuki dunia kerja: susahnya diangkat menjadi karyawan tetap. Hari ini, sang orang tua menyadari kesulitan anaknya. Sementara, batas usia untuk diterima kerja di pabrik adalah 24-25 tahun. Kontrak berkepanjangan membahayakan hidup buruh. Setelah usia melewati 25 tahun, semakin sulit mencari pekerjaan.

Manusia-manusia ini gelisah, mereka tak tahu pangkal penyebabnya.
Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar