Vitamin Otak




Istilah ini tiba-tiba saja terlintas di kepalaku ketika menghadapi orang yang kepalanya penuh dengan teori konstipasi, eh, konspirasi. Biasanya orang-orang semacam itu dipengaruhi oleh pikiran paranoid yang mengatasnamakan agama. Sebut saja, ada kekuatan konspirasi besar yang sedang berusaha menghancurkan agama yang dianutnya. Tapi, hal ini terjadi tidak melulu soal agama, walaupun ini yang paling sering. Ada pula karena soal-soal lain, termasuk di dunia pergerakan buruh, misalnya ada kekuatan konspirasi yang berusaha menghancurkan organisasinya.

Penyebabnya tentu saja bukan karena kekurangan vitamin otak dalam arti harfiah. Ini karena tidak ada kesadaran yang bergizi mengenai dunia. Bukan juga karena kurang pendidikan belaka, tapi karena persoalan yang lebih menyejarah di mana sepanjang sejarah masyarakat berkelas telah sukses mengasingkan manusia dari ilmu pengetahuan, apalagi filsafat. Jadi, inilah keadaannya. Sedikit-sedikit adalah masalah, dihubungkan dengan konspirasi sebagai sebab tunggal yang maha kuasa. Tidak sadar akan kekuatan-kekuatan sosial yang menggerakkan masyarakat, pergumulan antara kesadaran manusia dengan realitasnya. Konspirasi memang ada, tapi bukan yang maha menentukan.

Karena konspirasi itu begitu sederhana untuk diadopsi: menuduh belaka, maka mudah lah ia merasuk. Ini suatu keterbelakangan manusia. Saya pun terprovokasi untuk meresponnya dengan sederhana: kurang vitamin otak.

Saya bisa saja maklum jika ini terjadi pada orang-orang tertindas yang waktunya habis untuk bekerja keras sepanjang hari, tak punya waktu luang belajar, yang memang membutuhkan uluran tangan kita untuk saling belajar dengan mereka. Tapi bagaimana jika ini menimpa orang-orang 'berkesempatan' menjadi terpelajar karena waktu luang, seperti mahasiswa atau pemimpin serikat buruh (terutama serikat buruh besar). Begitu kacau, tak pantas diampuni kekurangan vitamin otak ini diderita oleh orang-orang semacam ini.
Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar