Ulasan Film Good Will Hunting

Good_Will_Hunting_theatrical_poster

Oleh: Wahyu


Film yang pernah dianugerahi piala Oscar ini bercerita mengenai seorang laki-laki yang bernama Will Hunting yang diperankan oleh Matt Damon, sosok yang gemar membaca serta analisis-analisisnya yang tajam mengenai realitas ini membuatku terpaku dan betah lama menatap layar monitor. Film yang berdurasi dua jam ini mengisahkan mengenai kebobrokan dunia pendidikan serta kesenjangan sosial di negara di mana kapitalisme tumbuh dengan subur ini secara tidak langsung sebenarnya sedang memblejeti sistem kapitalisme itu sendiri dan menerangkan dengan jelas bahwa sistem kapitalisme telah merubah dunia ini menjadi kacau yang efeknya adalah terjadinya kesenjangan sosial yang sangat mencolok dan cenderung sangat merugikan rakyat miskin. Di saat orang kaya “menghamburkan” uangnya hanya untuk mendapatkan gelar, orang miskin malah setiap harinya dipaksa untuk memungut kaleng-kaleng rombeng di tempat sampah orang-orang kaya!


Alur cerita yang tajam serta akting para tokohnya yang memukau merupakan kekuatan film ini. Will Hunting merupakan sosok yang pandai dan tidak banyak basa-basi (omong kosong) ketika berbicara dengan siapa pun. Will banyak baca buku yang salah satunya yakni buku Karl Marx, sehingga ia paham betul ketika ia mendebat salah seorang mahasiswa yang baru dikenalnya di bar dengan argumentasi-argumentasinya yang tajam dan tepat (padahal ia sendiri bukan mahasiswa yang setiap harinya duduk manis di ruang-ruang kelas mendengarkan ceramah dosen).

Untitled

Selain membaca Karl Marx sepertinya Will juga pernah membaca buku-bukunya Howard Zinn, sejarawan yang pro-rakyat, frasa terakhir ini aku sadur dari salah satu artikel yang sudah diterjemahkan oleh Danial Indrakusuma: Howard Zinn, sejarawan pro-rakyat. Tak lama setelah Obama terpilih pada bulan November 2008, Zinn Education Project (proyek pendidikan Zinn) mensponsori ceramah Howard Zinn di hadapan ratusan guru yang hadir di konferensi tahunan National Council for the Social Studies (dewan nasional studi-studi sosial). Zinn mengingatkan pada semua guru bahwa poin yang penting dalam pembelajaran studi-studi sosial bukanlah sekadar mengingat-ingat fakta-fakta, tapi mengilhami murid-muidnya dengan gairah untuk mengubah dunia. "Sejumput tujuan yang sederhana", kata Zinn dengan sungguh-sungguh, sambil mengedipkan sebelah matanya.

Dalam ceramahnya, Zinn menekankan bahwa para guru harus membantu murid-muridnya dalam "menentang anggapan mendasar yang membuat kita terjebak di dalam kotak." Karena tanpa pemikiran-ulang yang kritis terhadap anggapan tentang sejarah dan peran Amerika Serikat di dunia maka “segalanya tak akan berubah". Dan akan tetap "menjadi suatu dunia yang disesaki oleh perang, kelaparan, penyakit, kesenjangan sosial, rasisme, dan seksisme.

Kunci dari anggapan yang perlu dipertanyakan ada dalam Preambul (pembukaan) Konstitusi Amerika Serikat, yakni gagasan "kepentingan nasional", sebutan yang lazim dalam wacana politik dan akedemik, yang termaktub dalam makna "satu keluarga besar" – "Kami rakyat Amerika Serikat…” Menurut Zinn, bukan rakyat yang menetapkan Konstitusi di Philadelphia – tapi 55 orang kaya berkulit putih. Menurut Zinn, Konstitusi tersebut adalah "pengukuhan kekuasaan para pemilik budak, para pedagang, dan para pemegang saham". Mengajar sejarah melalui lensa konflik kelas, ras, dan jender bukan saja benar-benar lebih akurat, tapi juga agar para murid – dan juga kita semua – tidak akan "dengan mudah berkubang, tenggelam dalam selubung (kepura-puraan) ungkapan-ungkapan seperti "kepentingan nasional", "ketahanan nasional", seolah-olah kita sedang berada dalam perahu yang sama, kepentingan yang sama (dengan kelas penguasa yang menggembar-gemborkan ungkapan-ungkapan tersebut).

(Bill Bigelow)
Seketika aku juga diingatkan oleh film ini mengenai bahaya militerisme:

Good Will Hunting

Film Good Will Hunting bisa ditonton secara gratis di Nonton Movie atau Film Bagus 21.

Selamat menonton dan berpikir!
Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar