Sifat Mendua Buruh

"Sifat mendua" ini yang selalu menjadi pertanyaanku saat masih mahasiswa. Waktu itu, aku berorganisasi di sebuah organisasi mahasiswa yang memperjuangkan demokrasi. Keadilan menjadi wacana yang paling sering kudengar. Tapi, hal yang membuatku tidak nyaman, kenapa banyak aktivisnya yang bertabiat buruk.

  1. Doyan minum minuman keras ngga karu-karuan.

  2. Doyan mempermainkan perempuan.

  3. Pemalas.

  4. dll


penindasSampai satu ketika, aku terdiam karena ada seorang mahasiswi yang batal masuk ke organisasi kami. Aku masih ingat jelas kata-katanya, "Kalian bilang anti penindasan, tapi kenapa menindas perempuan." Aku diam saja, karena itu memang benar. Sekretaris kota (sekot) organisasi kami mendekati dia dan mengaku tidak punya pacar. Belakangan ketahuan, si sekot ini sudah bertunangan. Batalnya mahasiswi itu masuk organisasi kami juga membuat batal mahasiswa-mahasiswi lainnya untuk masuk. Mereka segerbong. Aku kasihan pada kawanku-seorganisasi, seorang perempuan, yang sudah capek-capek mengorganisir tapi gagal karena kegatalan si sekot yang playboy ini. Sekadar info, si sekot ini bukan kali ini saja berkelakuan begini.

Sampai suatu waktu, aku kaget setengah mati, ternyata seniorku, menerima bayaran dari sebuah aksi. Rupanya aksi yang aku ikuti itu adalah aksi bayaran. Kalau tahu, mana mau aku ikut. Jadi, saat organisasi kami pecah, mudah saja bagiku untuk menentukan pilihan. Aku nyaris tak memahami perbedaan politik mereka. Aku hanya ingin yang baru. Banyak yang kusadari baru belakangan saja.

Semakin waktu berjalan, tahunan, mahasiswa-mahasiswa yang suara kencang itu tinggal kenangan. Mereka mencari penghidupan masing-masing. Ajaran bahwa setelah mahasiswa kita harus masuk ke sektor pengorganisiran lain, seperti tani, buruh dan kaum miskin kota, tinggal sekadar teori.

Setelah aku masuk ke gerakan buruh, aku lebih terkejut lagi. Jika dulu mahasiswa membutuhkan tahunan untuk berkhianat, yakni saat menjelang lulus atau setelah lulus kuliah, di sektor bisa dalam hitungan bulan, minggu, bahkan hari. Bagaimana bisa, bersama-sama konsolidasi untuk mogok atau menuntut pengusaha, beberapa hari kemudian, seorang buruh bisa berubah pikiran setelah diangkat entah menjadi karyawan tetap, supervisor atau jabatan lainnya di atas buruh kontrak/OS/magang atau buruh produksi. Saat ada yang kena PHK sebagian, mayoritas hanya diam melihat kawan-kawannya di-PHK. Beberapa bulan kemudian, mereka yang diam ini kena giliran.

Seorang yang fatalis-aktivisme, tentu saja akan langsung putus asa, "akh, tak ada yang berubah, keadaan tetap sama saja, orang tertindas tak mungkin bebas." Tapi, aku membaca.

Segalanya menjadi jelas setelah aku membaca buku "Pendidikan Kaum Tertindas", karya Paulo Freire.
"Kaum tertindas membenci penindasnya, sekaligus menggairahinya." (kukutip dari buku itu)

Mereka ingin bebas, tapi tak memiliki figur lain untuk diikuti dan tak menyadari bahwa sumber penindasan mereka berada pada akar penindasan yang harus diakhir. Itulah kaum tertindas yang ingin menjadi penindasnya, tak menyadari akar penindasnya.

Memang, individu tertindas ada yang berhasil membebaskan diri sebagai individu, tapi hanya menghasilkan semacam kenaikan kelas dari tertindas menjadi penindas baru--penindas-penindas kecil yang munafik. Mayoritas buruh tetaplah tertindas dan semakin sulit bebas setelah mereka dikhianati oleh wakil-wakil kelasnya.

Perjuangan untuk pembebasan buruh dan rakyat harus dilakukan secara "sadar" dan menempuh proses "menyadari". Memang, belakangan, ada sebagian kecil buruh yang sering ikut pendidikan yang menjelaskan akar ketertindasannya, kepribadian mereka berubah dan aku yang menyadari bahwa mereka telah menyadari akar ketertindasannya, takjub sendiri.

Jadi, dalam pengalamanku, kebutuhan terhadap teori revolusioner adalah benar adanya. Ini juga yang mereka cegah untuk direngkuh oleh buruh. Pelarangan-pelarangan belajar terhadap teori tertentu adalah bentuk pencegahan terhadap pembebasan kaum buruh. Perjuangan kita sejauh ini hanya banyak menghasilkan tukang-tukang obat yang jago orasi, tapi mentok dalam hal strategi-taktik.
Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar