The Great Dictator

[caption id="attachment_454" align="aligncenter" width="200"]Sumber foto: http://i.jeded.com/i/the-great-dictator.12778.jpg Foto ilustrasi. Sumber: i.jeded.com[/caption]
Oleh: Joni

The Great Dictator adalah film satire sekaligus parodi yang dibuat oleh Charlie Chaplin untuk menyindir kekuasaan dan kekejaman Nazi dan ketamakan Hitler sang diktator fasis Jerman.


Film yang dirilis pada Oktober 1940 ini menceritakan tentang masa jayanya Nazi yang dipimpin oleh Hynkel a.k.a Hitler. Tokoh utama dalam film ini tiada lain adalah Charlie Chaplin sendiri. Ia berperan sebagai dua tokoh sekaligus; sebagai prajurit yang juga berprofesi sebagai tukang cukur dan sekaligus Yahudi, juga memerankan sebagai tokoh Hynkel. Sebagai prajurit, ia merupakan orang kepercayaan Schultz, karena sebelumnya ia pernah menyelamatkan nyawa Schultz yang ternyata orang yang telah diselamatkannya itu sebenarnya memang tidak menyukai gaya pemerintahan Hynkel. Dan Hynkel akhirnya tahu bahwa Schultz adalah pendukung demokrasi dan dianggap subversif serta menjadi ancaman pemerintahannya. Sehingga akhirnya Schultz dan kawannya Hynkel ditangkap dan dipenjarakan.


Hynkel dalam film ini digambarkan mempunyai ambisi untuk menaklukkan dunia. Dapat dilihat dari adegan dimana Hynkel menari dengan balon globe. Tapi pada akhirnya bola globe yang sedang dimain-mainkannya tersebut pecah begitu saja, yang sebenarnya melambangkan bahwa ambisinya tersebut tidak akan bisa terwujud dalam waktu tertentu dan menandakan berakhirnya masa kekuasaannya. Hynkel memiliki seorang saingan dalam hal kekuasaan yaitu Benzino Napaloni a.k.a Mussolini dan Napoleon, seorang diktator fasis dari Bacteria.


Schultz dan si tukang cukur akhirnya melarikan diri dari penjara dengan mengenakan seragam ala prajurit Hynkel. Penjaga perbatasan yang mengira bahwa si tukang cukur yang sedang bersama Schultz itu adalah Hynkel akhirnya membiarkan mereka lewat bahkan menyambutnya dengan meriah. Puncak dari film ini adalah sebuah pidato sekaligus propaganda yang menggelora dari si tukang cukur. Karena kemiripan di antara keduanya memang tiada kentara, akhirnya si tukang cukur pun yang notabene dari kelas yang tertindas akhirnya dapat menyampaikan pesannya melalui pidato/propaganda kepada ribuan bahkan jutaan manusia. Berikut isi dari pidato/propagandanya:




“Maaf, tapi aku tidak ingin menjadi kaisar. Itu bukan pekerjaanku. Aku tak mau memerintah atau menaklukkan siapapun. Aku mau membantu semua orang jika mungkin: Yahudi, kafir, hitam, putih. Kita semua ingin saling membantu. Manusia fitrahnya memang seperti itu. Kita ingin hidup sama-sama bahagia, bukan menderita. Kita tak mau saling membenci. Di dunia ini, bumi kita ini kaya dan bisa menyokong semua orang. Jalan hidup bisa bebas dan indah, tapi kita telah kehilangan jalan itu. Ketamakan telah meracuni jiwa manusia, yang telah membatasi dunia dengan kebencian, telah menuntun kita pada pertumpahan darah. Kita telah menciptakan kecepatan, tapi kita mengurung diri di dalamnya. Mesin telah memberikan yang kita mau. Pengetahuan kita membuat kita menjadi sinis. Kepintaran kita, keras dan tidak ramah. Kita berpikir terlalu banyak dan terlalu sedikit berperasaan. Kita lebih butuh kemanusiaan dibanding mesin. Lebih dari kepintaran kita, lebih butuh keramahan, dan ketulusan. Tanpa kualitas ini, hidup akan penuh kekerasan dan semua akan hilang. Pesawat dan radio membuat kita dekat. Penemuan ini meminta kebaikan dari manusia, meminta persahabatan universal, untuk kebersamaan kita semua. Bahkan sekarang suaraku mencapai jutaan orang, jutaan orang yang putus asa, perempuan dan anak-anak, korban dari sistem yang membuat manusia disiksa dan memenjarakan orang yang tidak bersalah.
Pada siapapun yang bisa mendengarkan suaraku, jangan putus asa. Penderitaan kita hanyalah bagian dari ketamakan, kepahitan orang yang takut pada kemajuan manusia. Kebencian akan berlalu, dan diktator akan mati, dan kekuatan yang mereka curi akan kembali ke rakyat. Selama manusia tidak dibunuh, kebebasan tidak akan hancur.
Prajurit, jangan serahkan diri kalian pada kebrutalan, orang yang membencimu, memperbudakmu, mengatur hidupmu, mengatur apa yang kau pikir dan kau lakukan, yang melatihmu, memperlakukanmu seperti ternak dan menjadikanmu sebagai umpan meriam. Jangan serahkan diri kalian pada orang seperti itu, manusia mesin dengan pikiran mesin dan berhati mesin. Kalian bukan mesin, kalian bukan ternak, kalian manusia! Kalian punya cinta pada kemanusiaan dalam diri kalian. Jangan membenci.
Prajurit, jangan berperang untuk perbudakan, berperanglah untuk kebebasan! St. Luke mengatakan, ‘Kerajaan Tuhan ada dalam diri manusia.’ Bukan pada satu orang, bukan juga pada sekelompok orang, namun semua orang. Dalam diri kalian! Kalian punya kekuatan untuk menciptakan mesin, kekuatan untuk menciptakan kebahagiaan. Kalian punya kekuatan untuk membuat hidup ini bebas dan indah, untuk membuat hidup ini menjadi petualangan yang indah.
Atas nama demokrasi, mari kita gunakan kekuatan itu. Marilah kita semua bersatu, mari kita berjuang untuk dunia baru, sebuah dunia yang memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk bekerja, yang memberikan masa depan bagi anak kecil dan perlindungan bagi orang tua. Dengan menjanjikan hal-hal ini, kebrutalan telah bangkit. Tapi mereka berbohong! Mereka tidak menepati apa yang dijanjikannya. Mereka tidak akan pernah menepatinya! Diktator membebaskan dirinya sendiri tapi memperbudak rakyat. Sekarang marilah kita berjuang untuk memenuhi janji itu! Marilah kita berjuang untuk membebaskan dunia, untuk menyingkirkan hambatan nasional, untuk menyingkirkan ketamakan, bersama menghilangkan kebencian dan ketidaktoleranan. Mari kita berjuang untuk dunia yang baru, dunia dimana ilmu pengetahuan dan kemajuan akan menuntun pada kebahagiaan semua orang.
Para prajurit, atas nama demokrasi, marilah kita bersatu!”



Filmnya bisa ditonton di filmbagus21
Selamat menonton dan berpikir!
Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar