Kemajuan Teknologi Menyingkirkan Tenaga Buruh Tani






Kemajuan teknologi yang semakin pesat tidak selalu bernilai positif bagi setiap pihak. Seperti buruh tani di Desa Sausu Kec Sausu Kab Parimo Sulawesi  Tengah yang justru merasa dirugikan. Semenjak petani menggunakan mesin pemotong padi dan perontok gabah, pemilik lahan tidak lagi menggunakan tenaga manusia untuk memotong padi.

Berikut alasan petani lebih memilih menggunakan mesin:

  1. Menggunakan mesin efektif lebih cepat

Menggunakan mesin pemotong padi dianggap lebih efektif dalam proses pemotongan padi. Dimana pemotongan padi pada 1 hektar sawah yang dikerjakan dengan tenaga buruh dapat terselesaikan kurang lebih tiga hari namun dengan menggunakan mesin dapat terselesaikan tidak sampai sehari. Jadi, pemilik lahan memiliki banyak waktu luang.

  1. Upah untuk pemilik mesin murah

Proses pengupahan kepada pemilik mesin pemotong padi pun dikatakan lebih murah dibandingkan harus membayar upah tenaga buruh. Pada pemilik mesin, petani hanya memberikan satu karung padi setiap menghasilkan 20 karung padi atau 19:1.

Sedangkan pada buruh tani, setiap menghasilkan 10 karung padi, pemilik lahan harus memberikan satu karung padi kepada buruh. Atau sama dengan 9:1

  1. Pemilik lahan tidak membayar buruh

Biasanya pemilik mesin menggunakan tenaga kerja untuk operator mesin dan mengurusi gabah sampai 7 orang. 6 orang untuk mengurusi gabah diupahi Rp3,000/karung. Rumusnya: 3,000 X banyaknya gabah : 6 orang. Sedangkan 1 orang lainnya yang mengoperasikan mesin, upahnya bisa lebih besar dari itu  karena tidak perlu dibagi-bagi seperti tenaga pengolah gabah.

Semua upah ini dibebankan kepada pemilik mesin atau pihak yang mengontrak mesin, bukan pemilik lahan. Karena kerja mesin sangat cepat, maka banyak lahan-lahan petani yang bisa dikerjakan. Banyak lahan, banyak padi dalam karung.

Perharinya, mesin bisa menghasilkan padi sampai ratusan karung dari lahan yang berbeda-beda. Paling banyak  200 - 300 karung jika cuaca terang, ini dari 3 Ha lahan, karena upah pemilk mesin adalah 1 karung padi setiap menghasilkan 20 karung padi. Maka,  300 : 20 = 15 karung. Jika diolah, padi 15 karung ini bisa menghasilkan 450 kg beras. Sekarang harga beras di pasar Rp 10,000. 450 kg X Rp 10,000 = Rp 4, 500,000 keuntungan pemilik mesin.

Hasil tersebut digunakan untuk membayar tenaga pengolah padi  Rp150,000/orang X 6= Rp 900,000 (lihat rumus), biaya operator mesin Rp 1,500/karung  X 300 karung = Rp 450,000, biaya petunjuk untuk mencari areal Rp100,000/Ha X 3 Ha = Rp 300,000, solar paling banyak 50 liter/3Ha X  Rp5,650 = Rp282,500. Dijumlah, maka pembiayaan sebesar  Rp1,932,500.

Jadi, penghasilan – pembiayaan = Rp 4,500,000 – Rp 1,932, 500 = Rp 2, 567, 500, inilah keuntungan pemilik mesin perharinya apabila upah berupa padi tersebut dijual semuanya.

Pertimbangan lebih cepat dan hemat seperti ini mengakibatkan tenaga buruh tani banyak yang tidak dibutuhkan lagi. Mengingat mata pencarian masyarakat Sausu sebagian besar adalah buruh tani, maka konsekuensinya adalah kehilangan pekerjaan. Sedangkan pemilik mesin semakin kaya.

Walaupun begitu, mesin pemotong padi ini kadang tidak digunakan apabila cuaca tidak baik. Menurut keterangan petani, jmesin pemotong padi tidak digunakan pada saat cuaca buruk seperti musim hujan karena kondisi bulir padi yang basah mengakibatkan padi  tercecer di lahan.

“banyak padi yang masih tersisa dilahan,” ujar Kardu


Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar