Kriminalisasi Saiful dan Eko: Cara Kapitalis Bungkam Perlawanan Buruh


Kriminalisasi aktivis buruh membungkam gerakan perlawanan kaum buruh untuk memperjuangkan hak-hak buruh. Alat yang digunakan oleh pemodal  saat ini adalah UU ITE Pasal 27 ayat (3) .
“Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.”
Korban UU ITE terbaru saat ini menimpa dua orang pengurus Serikat Buruh Bumi Manusia (SEBUMI), yaitu Saiful Anam dan Eko Pamuji. Keduanya dilaporkan ke pihak kepolisian oleh managemen PT.Nanbu Plastic Indonesia dengan tuduhan melanggar pasal 27 ayat (3) UU ITE.

Dasar pelaporan yang digunakan pengusaha adalah posting status di media sosial Facebook. Berikut adalah kuitipan status Saiful Anam:
"Kartini, ya Kartini bagian QC PT. Nanbu, telah diusir secara paksa oleh orang-orang yang dibutakan hatinya,ia hanya menuntut apa yang tertuang di Undang Undang, ia tetap tegar dan tetap akan melawan akankah kalian diam wahai buruh nanbu atas ketidak adilan ini? apakah kalian sudah tinggal di surga yang didalamnya tidak ada anak yatim, bahkan pengemis yang mengusik. Bukankah kalian pernah merasakannya ? Aku tunggu aksi-aksi kalian, besok ada solidaritas ke PT. Hitech untuk pembebasan buruh kontrak, aku turut serta kalian bagaimana?"
Isi status tersebut di atas pada dasarnya hanyalah ajakan kepada anggota SEBUMI untuk lebih peduli pada nasib buruh kontrak yag hak-haknya telah dirampas oleh pengusaha. Sekaligus ajakan aksi solidaritas ke pabrik lain yang sedang mengalami masalah serupa, yaitu pelanggaran PKWT (kontrak), di PT Hi-Tech Ink. 

Secara hukum isi status tersebut tidak mengandung unsur pencemaran nama baik seseorang sebagimana dimaksud dalam pasal 27 ayat (3) UU ITE maupun pasal 310 KUHP. Sehingga ditengarai penggunaan UU ITE dalam kasus di atas, sejatinya digunakan untuk membungkam pengurus maupun kegiatan SEBUMI. Upaya kriminalisasi ini juga berarti adanya indikasi union busting (pemberangusan serikat buruh) yang dilakukan pengusaha PT Nanbu Plastics Indonesia.

Kriminalisasi terhadap Saiful dan Eko harus kita lawan bersama, sebagaimana kita melawan kriminalisasi terhadap kawan sastrawan, kawan-kawan buruh GBI (Gerakan Buruh Indonesia), kawan petani, kawan mahasiswa dan rakyat tertindas lainnya.Kriminalisasi yang dilakukan oleh rezim penguasa, selaku perpanjangan tangan kepentingan modal, untuk meredam, menghentikan dan menghancurkan gerakan perlawanan rakyat. Pemodal memiliki uang yang dapat membeli kekuasaan, tetapi kami (buruh dan rakyat) memiliki keberanian yang tidak akan dapat kalian bayangkan...
Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar