Ketahui Pemikiran Kartini, Jangan Lihat Kebayanya


R.A Kartini (Foto: Butuh rujukan)

Di masa sekarang ini, setiap memperingati hari Kartini yang jatuh pada 21 April, kerap kali kita menemui para perempuan mengenakan kebaya dan menyanggul rambutnya ala Kartini. Padahal, Soekarno melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964 menetapkan 21 April sebagai hari Kartini bukan untuk mengenang pakaian maupun sanggulnya, melainkan buah pikirannya.
Kartini bicara tentang kehidupan pribumi Hindia Belanda, itu bisa diketahui dari surat-surat yang Ia kirim kepada sahabat penanya, seperti Estelle Zeehandelaar.
“Makan hati benar kebanyakan orang Eropa di sini melihat bagaimana orang-orang Jawa, bawahannya itu, lambat laun menjadi terpelajar, dan saban kali kalau ada saja si kulit coklat muncul, yang dapat membuktikan mempunyai otak yang sama baiknya di dalam kepalanya, dan hati yang sama baiknya di dalam dadanya, daripada orang kulit putih,[1]
Kartini mempelajari sebab-sebab orang-orang di sekitarnya menjadi tunduk patuh. Bagi Kartini, sebab dari kepatuhan itu adalah ‘tidak terpelajar’.
“Duh, sekarang aku mengerti, mengapa orang begitu menentang keterpelajaran orang Jawa. Kalau orang Jawa terpelajar, dia tidak akan jadi pengamin saja, takkan menerima segala macam perintah atasannya saja,”
Tulisan-tulisan yang paling banyak berpengaruh atas diri Kartini, sejuh mengenai Pribumi, adalah karya-karya Multatuli. Pada tahun 1900 ia menulis:
“Hari-hari belakangan ini aku membaca untuk kedua kalinya Minnebrieven Multatuli. Betapa zenialnya dia! Menyenangkan benar bahwa akan diterbitkan seluruh karyanya sebagai penerbitan murah,”[2]
Multatuli yang berani meletakkan kebenaran yang telanjang di tengah-tengah serigala yang justru hidup dari kezaliman. Bagi Kartini, Multatuli telah menyerahkan segalanya buat kepentingan pibumi. Dalam Minnebrieven [3] Kartini mendapat kalimat yang menggoncangkan:
Orang Jawa dianiaya. Aku akan menyetopnya, dan : Tugas manusia ialah menjadi manusia. [4]
Perhatian Kartini tertuju pada kebahagiaan dan kesejahteraaan rakyat. Baginya rakyat harus maju karena hanya kemajuanlah yang bisa membebaskannya dari segala macam penderitaan dan penindasan. Pendidikanlah yang dapat memajukan rakyat.
Dari penggalan surat Kartini itu dapat dilihat, bahwa Kartini tidak berbicara soal kebaya apalagi konde seperti yang dikenakan oleh perempuan setiap 21 April. Kartini berbicara penderitaan rakyat, ilmu pengetahun, emansipasi, dll.
Catatan kaki:
  1. Surat, 12 Januari 1900, kepada Estelle Zeehandelaar
  2. Idem.
  3. Minnebrieven adalah sebuah tulisan sambungan dari Max Havelaar.
  4. Ananta Toer Pramoedya. 2003. Panggil Aku Kartini Saja. Jakarta Timur: Lentera Dipantara

Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar