Mahasiswa Bertani Sawi Bebas Kimia di Poso

Profesi petani terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Data rumah tangga yang masih bertani menurut survei pertanian 2013 mengalami penurunan sebesar 15,35 persen, data ini juga menunjukan minat pemuda terhadap profesi pertanian sangat rendah yg didukung dengan data umur profesi petani yang didominasi dari umur 27-45 tahun. Lahan pertanian memang mengalami penurunan karena banyak lahan yang beralih fungsi dengan komoditi perkebunan industri milik swasta serta program pembangunan yang mengutamakan infrastruktur terus bergerak.

Situasi lain yang tak kala penting adalah kondisi tanah yg miskin hara, menurunkan produksi pertanian kita karena ketergantungan petani menggunakan bahan kimia sintetis pada pupuk dan pestisida yang membuat tanah bertekstur padat dan miskin hara!

Bercermin dari kondisi ini kami dari Solidaritas Kaum Muda Poso (SKMP) menyerukan, mengajak dan menghimbau kepada pemuda khususnya dan masyarakat petani pada umumnya untuk mencintai profesi bertani dengan mengedepankan konsep ekologis dan berkelanjutan serta berdampak positif bagi kesehatan manusia.

Kami memulai menanam sawi tanpa bahan kimia di halaman depan sekretariat. Kami adalah mahasiswa yang kebanyakan kuliah di Universitas Sintuwu Maroso (UNSIMAR). Saya sendiri baru saja menyelesaikan studi pertanian di sana.

Dalam dua bulan kami sudah memanen sawi tersebut dan membagi-bagikannya kepada tetangga. Mereka antusias dan mengirimkan kami makanan. Mereka minta diberi sawi lagi jika panen.

Ternyata bertani dan mampu menghasilkan sendiri dapat membuat kami lebih dekat dengan tetangga dan lingkungan sosial.

Mari bertani organik, karena organik itu baik! Salam lestari!!

Penulis: Erik, anggota SKMP, Poso Sulawesi Tengah
Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar