Beragam dalam Satu Barisan

Seperti biasa10 Desember jatuh sebagai Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Sedunia yang dirayakan oleh aktivis dan kelompok pembela HAM. Demikian juga tahun 2016 ini kami kembali merayakan Hari HAM dalam persatuan yang bernama Aliansi Demokrasi dan Keadilan Rakyat (ADIL). Ada berbagai organisasi dan aliran yang bergabung di dalam ADIL. Kita bisa menemukan organisasi buruh, perempuan, petani, mahasiswa, Papua, korban penggusuran, etnis dan agama minoritas serta LGBT, dari kelompok beraliran sosial demokrat, anarko sampai sosialis.

Sekitar 700 massa berkumpul di Tugu Proklamasi dengan mengibarkan bendera masing-masing. Bendera buruh yang merah-merah dan bendera pelangi berdampingan. Mahasiswa-mahasiswa Papua mengenakan ikat kepala bergambar bintang kejora. Seorang kawan Papua menceritakan bagaimana polisi meminta dia mencopot ikat kepalanya, dia menolak. Polisi mengancam, tak memaksa seperti biasa.

Aksi pawai itu berjalan tanpa gangguan. Penuh kegembiraan. Atraksi barongsai yang memikat. Berakhir di LBH Jakarta dalam pemutaran film Jakarta Unfair. Apa yang terjadi sebelum aksi adalah yang menarik bagiku untuk diceritakan.

Dalam sebuah rapat persiapan aksi, kawan-kawan LGBT mengutarakan kekhawatiran mereka menjadi korban bullying karena orientasi seksualnya. Juga kekhawatiran represi yang mungkin datang ketika bendera pelangi dikibarkan. Rapat itu berusaha mencari jalan keluar dalam masalah keamanan. Aku mengusulkan agar melibatkan kawan-kawan Papua yang memiliki pengalaman lebih dalam soal keamanan dan evakuasi. Mereka sudah terbiasa menempatkan diri dalam aksi-aksi penuh bahaya dan represi.

Memang ada banyak orang, bahkan di dalam gerakan masyarakat sipil sendiri, yang belum bisa menerima LGBT. Misalnya, masih banyak buruh yang belum menerima keberadaan LGBT. Tugas kita adalah meyakinkan massa untuk paling tidak, tidak melakukan penghinaan terhadap kawan-kawan LGBT. Sekalipun mereka belum bisa menerima LGBT, ada banyak cara menyatakan ketidaksetujuan, bukan dengan penghinaan dan apalagi kekerasan. Kita bisa saja berbeda dalam berbagai hal, tapi kita bisa berbaris dalam barisan yang sama selama tak saling tindas.

Rupanya, kawan-kawan Papua juga memiliki kekhawatiran yang sama. Seorang kawan Papua mengutarakan hal tersebut kepadaku. Dia menuturkan bahwa dirinya sebenarnya takut keberadaan mereka yang mengenakan simbol bintang kejora tidak bisa diterima oleh massa. Selama ini memang mereka kerap ditolak karena dianggap berbeda dan separatis.

Saat itulah aku menceritakan kekhawatiran kawan-kawan LGBT kepada kawan Papua itu.

"Mereka sebenarnya khawatir juga lho. Mereka khawatir akan dibully. Dua kali kekhawatiran itu diutarakan, dalam rapat dan grup WA. Mereka khawatir akan dibully oleh buruh. Mereka khawatir ketika bendera pelangi itu berkibar, akan langsung diserbu. Kita ini sama."

Begitulah rupanya kita saling berprasangka satu sama lain. Padahal kita mengalami situasi penindasan yang sama dengan latar belakang yang berbeda.

Aku pernah bertemu dengan seorang transjender dan aku berusaha berteman, namun niatku agak urung karena menurutku dia sombong. Pandangan itu berubah saat dalam sebuah sesi diskusi dia mengungkapkan bahwa dia selalu hati-hati saat berkenalan dengan orang baru. Dia merasa dia tidak akan diterima dan mungkin akan dihina. Seketika itu juga aku sadar kalau kami saling berprasangka.

Bagaimana jika kekhawatiran, prasangka dan segala perbedaan (yang tidak saling menindas itu) kita buang jauh-jauh. Jika mereka yang beragama dalam satu barisan bisa mengumpulkan 400-500 ribu orang pada 2 Desember. Kita bisa lebih baik. Bukan saja karena kemanusiaan yang kita perjuangkan, tetapi juga karena kita beragam dalam satu barisan.

Hari ini kita masih kecil, tapi kita akan semakin besar dengan satu-satunya cara: dalam melawan penindasan, kita hanya perlu berada dalam barisan yang sama.
Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar