Kisah "Korban Rayuan Militer"

Sulawesi Tengah adalah provinsi yang dikenal sebagai ‘sarang’ teroris. Aksi teroris di Provinsi ini memang sangat meresahkan warga, tidak sedikit nyawa petani tak bersalah dihabisi.
Sumber gambar: Pujangga Maya
Tidak heran jika ratusan bahkan ribuan anggota tentara dan polisi banyak ditugaskan di Provinsi ini, katanya untuk mengayomi warga. Kalau kita memasuki desa-desa di beberapa Kabupaten yang dianggap sarang teroris, kita akan menemui posko-posko pengamanan. Begitu juga di desa tempat tinggalku yang berbatasan dengan Kabupaten Poso ini.
Kedatangan orang-orang berpangkat itu disambut hangat oleh warga, terlebih para gadis desa yang begitu memimpikan dapat bersanding dengan orang yang dianggap lebih tinggi status sosialnya. Mulailah mereka bersolek, merubah penampilan dan melakukan beberapa hal lainnya yang dianggap dapat menarik perhatian oknum tentara maupun polisi.
Tidak hanya para gadis, sambil bertugas menangkap kelompok teroris Santoso cs, oknum militer itu juga menjalankan misinya untuk merayu gadis desa. Rata-rata, di lokasi pengamanan, anak gadis banyak yang menjalin hubungan dengan tentara. Tidak heran jika di daerah kami, Koramil sering diplesetkan kepanjangannya adalah "Korban Rayuan Militer".
Para gadis senang, bangga, kendati buai rayuan yang ia dengar sama sekali tak rasional. Bahkan ketika janji-janji diingkari, mereka akan tetap bangga.
“Yang penting pangkatnya, ces,” begitu kata salah seorang pacar oknum tentara, sebut saja namanya Raisa
Saking bangganya mendapat puji-pujian karena bisa menjadi pacar tentara, bisa dekat dengan anggota Brimob. Raisa pernah meminta buah-buahan pada tetangga untuk dibawa ke pos pengamanan. Padahal pos tersebut terbilang jauh, lebih dekat dengan hutan, jalannya terjal, banyak batu, berdebu, orang biasa menggunakan motor  trail atau menyetel bannya terlebih dulu untuk menempuh jalanan di daerah ini.
Semua dilakukan demi satu janji, yaitu pernikahan. Sampai dengan penghujung April 2016, tanda-tanda pernikahan itu tak kunjung nampak. Malang benar gadis pemimpi itu, awalnya ia dijanjikan pernikahan setelah naik pangkat, ternyata dibatalkan dengan alasan proses naik pangkat diundur sampai operasi untuk menangkap Santoso cs berakhir.
Raisa sering ngedumel karena janji yang tak kunjung ditepati. Ia menjadi lebih banyak diam dan meneteskan airmata.  Walaupun begitu, demi sebuah janji, Raisa mau berkunjung ke kabupaten lain untuk mengunjungi kekasihnya yang telah pindah posko. Selama masih bisa dijangkau, ia akan mencari kekasihnya, menemuinya secara diam-diam agar tidak diketahui orang tuanya.
Raisa memang menaruh harapan besar pada salah seorang oknum tentara yang telah menjadi kekasihnya itu, sebut saja namanya Rio. Sebagai seorang yang bertugas di tengah hutan, Rio nyaris tidak pernah memberi kabar. Raisa memakluminya, menghindari pertengkaran demi pernikahan yang masih samar-samar.
Saya menyebutnya samar karena sampai hari ini, Rio tidak pernah mengunjungi rumah Raisa untuk bersilahturahmi dengan orangtuanya. Rio terkesan acuh kepada Raisa, berdasarkan cerita dari Raisa, keluarga Rio justru meragukan Raisa dengan berbagai alasan.
Menghadapinya, Raisa hanya memasang wajah murung. Berusaha berpikir positif karena ia yakin mimpinya untuk bersanding dengan Rio bisa terwujud.

Beberapa bulan berlalu, sekitar Juni 2016 Raisa benar-benar mengakhiri hubungannya. Dia merasa malu pada orang tuanya setelah beberapa kali menyampaikan dirinya akan dilamar namun hal itu tak kunjung terjadi.

Meskipun begitu, sejak saat itu Raisa menjadi gadis yang periang. dia tidak lagi murung apalagi menunggu, dan akhirnya dia mampu membangun hubungan baru dengan pria lain. 
Seperti diketahui, pada saat itu operasi di bawah sandi Tinombala untuk menangkap kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dipimpin oleh Santoso sedang berlangsung di Sulawesi Tengah. Beberapa orang anggota Santoso cs sudah ada yang tewas akibat kontak senjata, beberapa lainnya tertangkap karena dipergoki meminta makan di rumah warga. Menyusul kemudian Santoso tewas sekitar pertengahan Juli 2016.
Share on Google Plus

1 komentar: