Mendanai Organisasi Lewat Cukil

Di Kota Palu, tampaknya cukil masih menjadi hal yang asing. Salah satu seni ini memang sulit dijumpai, bahkan tak ada sama sekali. Saat membawa cukil dalam perbincangan dikalangan mahasiswa, lagi-lagi, mereka tak mengetahuinya. Baiklah, Aku jelaskan seadanya tentang cukil.

Cukil merupakan salah satu seni grafis karena dihasilakan melalui cetakkan.  Dalam seni grafis, cukil tergolong teknik cetak tinggi. Proses  cukil diawali dengan menggambar desain di atas Papan MDF (Medium Density Fibreboard), desain gambar dibuat seperti refleksi horisontal cermin. Kemudian, desain gambar yang sudah jadi, dicukil dengan pisau pahat kecil. Ada beberapa jenis mata pahat, mata pahat yang digunakan sesuai dengan irisan atau efek goresan. Setelah selesai mencukil, proses selanjutnya menuangkan tinta pada bidang datar, misalnya kaca.  Tinta diratakan dengan menggunakan roller. Papan MDF yang selesai dicukil, diberi tinta yang melekat pada roller. Jika ketebalan tinta sudah cukup, papan MDF ditempelkan pada baju.

Salah satu prinsip dalam organisasi kami, Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN) adalah mandiri. Kata “mandiri” bila dipakai dalam memenuhi kebutuhan hidup, berarti tidak mengharapkan bantuan dari individu maupun kelompok lain secara finansial. Namun perlu diketahui, individu yang dimaksudkan adalah elit atau partai-partai politik borjuis. Kami sadar betul akan hal itu (menolak bantuan dari elit politik), pada dasarnya elit-elit politik punya kepentingan berbeda dengan kami dan juga rakyat tertindas. Elit maupun partai Politik haus akan kekuasaan, dan setelah berkuasa menegluarkan regulasi yang menyengsarakan rakyat.

Baiklah, kembali ke cukil. Selama menjadi bagian dari PEMBEBASAN, kami merasakan betul sulitnya mencari pendanaan bagi organisasi (konsekuesi dari prinsip politik). Aktivitas yang pernah dilakoni untuk pendanaan organisasi, mulai dari sablon, berjulan tahu isi, berjualan nasi goreng dan lain-lain. Namun semuanya gagal, tak bertahan lama. Kami semua “memutar otak” , berpikir keras mengenai kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan untuk mendanai organisasi.

Pada pertengahan tahun 2016, kebetulan saat itu beberapa anggota PEMBEBASAN Kolektif Kota Palu turut serta menghadiri kongres PEMBEBASAN di Bogor. Ketika kongres selesai, kawan-kawan dari Serikat Kebudayaan Masyarakat Indonesia (SeBUMI) mengajarkan teknik cukil. Berkat pengalaman belajar cukil, sepulang dari kongres, kami menjadikan cukil sebagai usaha untuk mendanai organisasi.  

Saat ini minat terhadap seni cukil sedang mengalami peningkatan. Terakhir kami mengirim pesanan selusin baju ke Ternate dan ada beberapa permintaan dari luar daerah yang belum terpenuhi. Untuk di Kota Palu sendiri, penjualan lebih banyak ke mahasiswa. Seni cukil tidak sebatas untuk mendanai organisasi, cukil juga kami jadikan sebagai seni yang lebih mendekatkan pada kondisi realitas, misalnya mengambil tema rekalamsi pantai, menolak percaya pada elit-elit politik, menolak Saharto sebagai pahlawan, perjuangan buruh dan tani melawan penindasan. Selain itu, ada pula tokoh-tokoh revolusi seperti Lenin, Marx, Che Guevara, Fidel Castro.  Tampaknya seni cukil semakin diminati, selain mempunyai muatan yang ideologis, cukil mempunyai nilai seni estetika tersendiri yang membuatnya berbeda dengan desain baju sablon kebanyakan.
Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar