Mengakui Pengalaman Perempuan

Aku beruntung terpilih menjadi peserta training feminisme dan pluralisme yang diselenggarakan oleh Kapal Perempuan pada tanggal 15-19 Desember 2016 di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat. Ini menjadi kesempatan menyegarkan pikiranku dengan ide-ide feminisme yang tidak aku tekuni selama 6 tahun terakhir karena berbagai sebab.

Penggabungan antara feminisme dan pluralisme dalam satu paket pendidikan adalah ciri khas organisasi perempuan yang telah berusia 18 tahun ini. Sebuah konsep warisan dari almarhumah Yanti Muchtar, sang pendiri. Ide-ide feminisme selalu relevan kapan dan di mana saja, karena penindasan perempuan tak habis-habisnya. Pluralisme belakangan ini menjadi semakin dibutuhkan di tengah munculnya fundamentalisme dalam mobilisasi massa yang besar.

Kami para peserta mendapatkan tiga materi utama: feminisme yang dibawakan oleh Gadis Arivia, pluralisme yang dibawakan oleh Melanie Budianta dan Gerakan Perempuan oleh Wahyu Susilo. Ketiga nama ini sudah sering kudengar, terutama Gadis Arivia dan Wahyu Susilo. Dulu sekali aku membaca baik-baik salah satu artikel Gadis Arivia, Sukarno:  Kepentingan Bangsa Vs Kepentingan Perempuan. Sebabnya, aku menghadapi masalah subordinasi kepentingan perempuan di dalam organisasiku yang dulu. Artikel itu menjadi begitu relevan bagiku. Sementara, Wahyu Susilo adalah aktivis pembela hak-hak buruh migran, dan tentu saja, adik kandung Wiji Tukul. Sungguh celaka kalau tak tau Wiji Tukul.

Ada hal sederhana yang diajarkan oleh feminisme. Sederhana, tapi adalah segalanya. Feminisme menitikberatkan pada pengakuan terhadap "pengalaman perempuan" sebagai sumber pengetahuan dan kebijaksanaan. Aku langsung merasakan pentingnya ini. Membekas. Sehari-hari, pengalaman kami perempuan kerap tak dihargai. Penghargaan itu akan muncul kalau kami sanggup berpikir dan bersikap seperti lelaki. Contohnya begitu dekat, di sebuah rapat seorang perempuan berusaha mengacu pada pengalamannya dalam menjelaskan sesuatu yang menjadi maksudnya, dia akan dianggap bertele-tele, pembicaraannya akan dipotong-potong, diremehkan. Seorang perempuan dianggap pandai apabila ia bisa menerangkan maksud-maksudnya seperti lelaki, mengabstraksi seperti lelaki, membuang cerita-cerita yang remeh-temeh. Tak peduli cerita remeh-temeh itu mewakili jutaan manusia yang bernama perempuan atau jutaan sudut pandangnya.

Mengapa harus menjadi seorang "rasional" untuk menjadi seorang manusia? Mengapa tidak menjadi keduanya, menjadi seorang yang "rasional" tapi sekaligus peka dan memiliki emosi yang justru dapat mengantar kita pada "empati"? Seorang kawan lelaki membuat pengakuan sesungguhnya lelaki itu menderita karena mereka tidak diperkenankan menunjukan emosi mereka oleh masyarakat yang patriarkis ini.

Dari sisi pluralisme, pelatihan ini adalah pluralisme itu sendiri. Pelatihan ini mampu membawa 30an peserta dan panitia dari berbagai latar belakang yang berbeda. Perbedaan itu berwujud dalam perbedaan agama, aliran agama, suku, warna kulit dan bahkan orientasi seksual. Kami "dipaksa" menghadapi perbedaan itu sendiri di ruang kelas sebagai, lagi-lagi, sebuah pengalaman. Pengalaman kolektif.

Dalam satu sesi tentang identitas, kami diharuskan menuliskan beragam identitas kami masing-masing, mulai dari agama dan identitas lain yang dilekatkan pada kami. Begitu beragamnya identitas hanya pada satu orang manusia. Kami berkomunikasi dengan bahasa yang sama, bahasa Indonesia, tetapi dengan beragam logat. Keberagaman yang begitu kompleks ini tak mungkin diwadahi tanpa toleransi. Tak perlu takut pada keberagaman selama tak saling menindas. Tak ada yang perlu ditakutkan dari perdebatan selama tak ada penghinaan martabat dan kekerasan.

Kemudian, kita harus menjadi gerakan. Ide-ide kita tentang feminisme dan pluralisme akan hidup dan berkembang jika ia menjelma menjadi gerakan. Kita memiliki sejarah gerakan yang begitu panjang untuk dipelajari. Segi positif yang bisa kita ambil, tak mengulangi kesalahan yang sama.

Kunci gerakan adalah organisasi, mobilisasi bersama dan perubahan sosial serta politik. Apa lagi yang kita tunggu?

Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar