Aksi Tolak Kebijakan Donald Trump Juga Berlangsung di Indonesia

Poster Donald Trump dibakar (Foto: Ismid)
Jakarta – Aksi menolak kebijakan Donald Trump selaku prseiden Amerika Serikat tidak hanya terjadi di Negara tersebut, aksi serupa juga terjadi di Indonesia. Berbagai organisasi yang ada di Indonesia melakukan aksi tolak Donald Trump dengan melakukan aksi jalan kaki dari depan Galeri Nasional menuju Kedutaan Besar Amerika Serikat, Sabtu (4/2/2017).

Terpilihnya Donald Trump dinilai memunculkan banyak kebijakan yang sangat berbahaya, diantaranya adalah:

1. rencana pembuatan tembok di perbatasan mexico demi membendung masuknya para imigran
2. menolak warga dari negara muslim yang terkait dengan terorisme.
3. meneruskan proyek pipa di dakota atas masyarakat adat asli di sana (indian dan lokal).
4. kebijakan mempersulit perempuan mengakses aborsi yang legal
6. meningkatkan sentimen misoginis dan anti Lesbian, Biseksual, Gay dan Transgender (LGBT)
7. menolak dan memutarbalik isu pemanasan global dan menarik diri dari Paris climate change deal
8. menghentikan semua pendanaan untuk "kota kudus", tempat di mana para imigran ilegal tanpa dokumen ditampung tanpa bisa ditahan petugas

Beberapa kebijakan itu dinilai berdampak terhadap negara lain, salah saunya adalah Indonesia. Sedangkan presiden Jokowi dinnilai acuh terhadap hal itu.

Oleh karena itu,  Anarkonesia, Antifa Jakarta, Pembebasan, Partai Rakyat Pekerja, Aliansi Mahasiswa Papua, PPRI, Forum Islam Progresive, Partai Hijau Indonesia, dan Arus Pelangi menggelar aksi untuk memprotes kebijakan Donald Trump.

Dalam unjuk rasa yang digelar di depan Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat, massa membakar poster Donald Trump. Massa juga berorasi secara bergantian memprotes kebijakan yang dianggap merugikan warga.

Di Amerika sendiri, aksi tolak kebijakan Donald Trump sudah dilakukan berulang kali. Misalnya, aksi masyarakat adat yang tinggal di perbatasan Amerika Serikat-Meksiko bersumpah tidak akan membiarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membangun tembok pembatas di atas lahan mereka.

Organisasi masyarakat adat Tohono O'odham Nation, yang hidup di atas lahan seluas 75 mil sepanjang perbatasan Amerika-Meksiko, menyatakan tidak akan mendukung pembangunan tembok pembatas itu dan akan memblokade pembangunan tembok jika tetap dilakukan, Kamis (26/1/2017).

Sementaraa itu, di London, Paris, Barcelona, Roma, Amsterdam, Praha, dan Jenewa juga digelar aksi sebagai solidaritas terhadap aksi Women's March, yang berlangsung di sejumlah kota besar di AS. Dilansir dar Lampung.tribunnews.com, sejumlah massa memadati Trafalgar Square di London, Inggris, Sabtu (21/1/2017) waktu setempat. Mereka mengutuk sikap Trump, yang selama ini dikenal sebagai figur yang intoleran, rasis, dan sering melecehkan perempuan.
Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar