Metode "Turun ke Bawah" ala LEKRA

LEKRA

Turun kebawah atau Turba merupakan salah satu metode untuk menghadapkan rakyat dengan realitas melalui seni sekaligus metode yang dipakai untuk mencari ide dan perluasan bagi organisasi  yang dilakukan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Metode Turba dijabarkan dalam “tiga sama” : makan bersama, tidur bersama dan bekerja bersama warga yang dikunjungi.

Meskipun menjadi keputusan resmi organisasi namun tidak ada ketentuan dari Lekra kapan dan berapa kali turba harus dijalankan. Kebijakan turba lebih banyak datang dari inisiatif tiap seniman dan kelompok seniman di daerah-daerah sesuai keadaan setempat, begitupun dengan biaya oprasionalnya di dapatkan dari pendonor atau menyisihkan 10 persen pendapatanya untuk organisasi.

Misalnya yang terjadi pada tahun 1963, Kusni Sulung pemimpin group musik Merah Kesumba diminta datang ke kantor Lekra Semarang. Karena tidak punya uang sepeserpun, Kusni menumpang truk pengangkut ayam, sesampaianya di Semarang Kusni diperintahkan ke Klaten, ketika itu sejumlah Desa disana sedang berlangsung Gerakan Aksi menuntut pelaksanaan perubahan sistem Agraria dan bagi hasil.

Walaupun sebenarnya bukan misi pokok Kusni ke Klaten namun ia melibatkan diri didalamnya. Dia menjadikan Gerakan itu sebagai bahan untuk menulis tentang masalah kaum tani yang kemudian menghasilkan drama yang berjudul Api di Pematang yang pemainya dari kaum tani itu sendiri.

Aktivitas berbaur bersama rakyat menjadi semacam praktek kerja lapangan bagi para seniman. Menjadi semacam sumber kreativitas dan ide yang di ambil dari kenyataan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat atau cara terbaik untuk mempelajari kenyataan.  

Ini menjadi penting karena para seniman dan intelektual sekarang kadangkala sering berbicara istilah “mendengarkan suara rakyat” atau mengakomodir “kepentingan rakyat” namun yang terjadi justru menggurui rakyat dan membelakangi realita yang berkembang di dalam masyarakat.

Dalam salah satu karyanya Kusni menulis :

“kita tidak datang se­bagai pelancong, tidak pula sebagai pembesar yang “begitu turun kereta sudah meniberikan perintah ini dan itu” kepada yang didatangi. Ini menuntut kita untuk menjadi sahabat akrab, menjadi anggota keluarga mereka yang kita datangi. Melalui metode ini, kita akhimya bisa,mengeduk bahan sebanyak banyaknya dan sekaya-kayanya.kita ,pun menge­nal relung-relung kehidupan penduduk yang .paling rahasia tak pemah terungkapkan kepada orang luar. Pengenalan beginilah yang oleh Lekra disebut sebagai “kenal, keadaan” Tapi, keadaan tidak lebih sebagai bahan mentah yang perlu diolah. Untuk mengolah bahan mentah ini diperlukan pisau analisa hingga kita bisa menyelam ke dasar hakiki permasalahan”.


Metode Turba dan seni realis Lekra menjadi gambaran penting bagi para seniman, hal itu berarti seni tidak sekedar memuaskan imajinasi personal, namun seni harus dipakai untuk menangkap dan menggambarkan realitas yang timpang, peluh pekerja, otot buruh, dan lumpur di kaki petani dan akan semakin ampuh jika bersamaan dengan metode turun bersama rakyat. 
Share on Google Plus

0 komentar:

Posting Komentar